Minggu, April 24, 2011

Kotbah Minggu Palma tahun A 2011

”TIRAI DISKRIMINASI TELAH TERSOBEK”

*P. Benediktus Bere Mali, SVD


Tirai Diskriminasi dalam Hidup Nyata

Dalam kehidupan kita seringkali kita menjumpai pembedaan-pembedaan entah itu secara langsung ataupun secara tidak langsung. Perbedaan bukan dipandang secara seratus persen sebagai sebuah kekayaan melainkan sebagai musuh atau lawan yang perlu dilawan dan dikalahkan. Konflik-konflik yang ada dan terjadi sering lahir dari pemanfaatan perbedaan untuk mengutamakan kepentingan diri entah dalam lingkup yang mikro maupun dalam lingkup yang makro. Keretakan sosial pun terjadi dalam kehidupan bersama. Keharmonisan dan kedamaian menjadi langka dan jauh dari manusia untuk mengalaminya.

Mengahadapi atau menjumpai atau mengalami aneka keretakan yang ada dan terjadi menjadi persoalan kehidupan bersama. Sebagai persoalan bersama perlu diadakan sebuah jalan penyelesaian bersama untuk kembali kita mengalami kedamain dan keharmonisan bersama. Perlu diadakan sebuah pemulihan terhadap keretakan yang ada untuk kembali memperindah wajah keharminisan kehidupan bersama.

Memulihkan pelbagai keretakan sosial yang ada termasuk keprihatinan dan perhatian SVD Sejagat. Hal ini menjadi salah satu bagian yang ditekankan Kapitel General SVD yang akan diselenggarakan pada bulan Juni 2012 di Roma. Kapitel General adalah sebuah lembaga tertinggi SVD dunia dalam memutuskan hal-hal penting yang berkaitan dengan jalan SVD ke depan dalam level dunia internasional.

Disadari bahwa ada pelbagai penyebab keretakan sosial yang ditemukan Serikat Sabda Allah (SVD) dunia. Modernisasi yang memproklamirkan keahlian dalam setiap bidang melahirkan lapangan pengkotak-kotakan yang sangat tajam bahkan melahirkan diskriminasi antara sesama manusia.

Pembagian kelas sosial berdasarkan agama dan budaya dapat menciptakan diskrimisan tajam dalam kehidupan bersama. Adanya naluri manusia menempatkan agamanya dan budayanya sebagai yang paling benar dan dianggap sebagai satu-satunya jalan agama yang membuka pintu surga baginya. Pola ini menjadi potensi bagi lahirnya fundamentalisme dan fanatisme yang rasis diskriminatif. Bila hal ini sampai munculke permukaan publik panggung kehidupan sosial maka wajah keharmonisan ternoda oleh karena konflik yang meretakkannya.

Pola seperti ini bila dipasarkan dalam dunia yang serba relatif ini, maka pandangan ini tidak akan dibeli konsumen yang telah lebih dahulu jatuh cinta pada relativisme sebagai Tuhannya. Bahkan yang ada dalam pikiran kelompok relativis bukan hanya untuk tidak membeli, tetapi dalam dunianya, mereka dengan pandangan relativismenya mematahkan dan membumihanguskan fanatisme agama dan budaya yang menodai kemanusiaan universal.

Perbedaan pandangan antara usia muda dengan mereka yang berusia tua juga, seringkali menciptakan keretakan wajah kehidupan bersama entah dalam kehidupan komunitas kaum spiritual maupun kelompok sipil. Tak jarang kita menjumpai kaum usia senja atau senior menilai kelompok muda sebagai orang yang masih sangat hijauh tidak mempunyai banyak pengalaman dan kurang kebijaksanaan di dalam kehidupan bersama. Seluhur perjuangan mulia anak muda apapun seringkali mengalami kritik pedas kaum senior yang mematikan semangat anak muda yang masih penuh dengan sejuta cita-cita yang harus direalisasikan di dalam masa hidupnya. Kematian dukungan senior terhadap perealisasian cita luhur anak muda mengarahkan anak muda mengalami patah asa di tengah jalan.

Seringkali kelompok anak muda pun melihat orang yang berusia tua terlalu ekstrim. Generasi tua adalah generasi lamban dan kolot tidak mengikuti perkembangan zaman yang memaksa untuk bergerak cepat di segala bidang kehidupan untuk kemajuan bersama. Tanpa jembatan yang dibangun untuk menyatupadukan harapan dan cita-cita generasi tua dengan generasi muda untuk membangun sebuah komunitas sosial yang rukun dan damai, maka cela keretakan sosial akan menjadi lebih mengangah lebar dan sulit untuk disatukan kembali.

Tirai Pembedaan Bangsa Yahudi

Meretakan wajah kehidupan bersama juga bukan sesuatu perbuatan yang asing di dalam kehidupan sosial bangsa Yahudi. Ideologi diskriminasi telah dibangun di dalam Kenizah pusat identitasnya. Ada tirai yang memisahkan sesama manusia. Tirai itu memisahkan tempat yang lebih baik dengan yang tidak baik. Pola tirai ini mempertajam pembedaan mereka yang menempati kedua tempat yang berbeda itu. Mereka yang kebetulan menempati ruangan yang tidak baik dinilai sebagai yang tidak baik dan mereka yang kebetulan menempati tempat yang baik adalah orang yang baik.

Yesus adalah seorang yang beragama Yahudi. Keagamaannya membangun kesadaran dalam diriNya dalam memandang Tirai di kenizah sebagai sesuatu yang tercipta manusia bukan turun dari atas sebagai barang mati. Tirai yang memisahkan tempat yang baik dan yang tidak baik dalam kenizah perlu diperbaharui agar pembedaan-pembedaan yang mempertebal penodaan pada wajah kemanusiaan semakin dikurangi bahkan dihapus sama sekali. Penghapusan kebiasaan diskriminasi di dalam Kenizah pusat hidup dan identitas agama Yahudi bukan seperti semuda membalikkan telapak tangan. Yesus harus menghadapi benteng penjaga Bait Allah yang melihat tirai itu baik adanya dan bukan menjadi persoalan mereka. Yesus harus berani menanggung segala resiko berupa penolakan bahkan bisa sampai nyawanya terancam. Dan memang benar bahwa hanya lewat kematianNya di Salib, Yesus dengan kuasa Allah sendiri menyobek tirai kenizah yang tercipta para penjaga Bait Allah Yerusalem dalam menjaga stutus yang menguntungkan diri bahkan menjadi lahan utama mendapat pekerjaan dan penghasilan.

Kematian Yesus disusul oleh kekuatan alam berupa gempah bumi yang menghancurkan segala kekuatan duniawi dan buatan manusia, tak terkecuali tersobeknya tirai kenizah pusat diskriminasi manusia. Ketika kita menonton Gempa Bumi di Golgota setelah Yesus disalibkan, dalam filmThe Passion of Christ, kekuatan alam itu meluluhlantakan kekuatan duniawi termasuk istana Pengadilan Pilatus tempat pengadilan terakhir Yesus, kursi istana Pilatus dan Herodes. Hal ini menujukkan bahwa yang lama telah diganti yang baru. Yang diskriminasi dihapus dengan kesetaran sesama manusia sebagai citra Allah.

Maka terpenuhilah Sabda Allah ini: ”Tirai kenisah yang sangat diskriminatif di hadapan Tuhan dan sesama manusia itu tersobek menjadi dua dari atas sampai ke bawah.” (lihat Mat 26 : 14 – 27: 66). Rantai Philosofi agama Yahudi yang membeda-bedakan dalam multidimensi terputus oleh kebangkitan Tuhan Yesus yang sebelumnya disalibkan dan dibunuh orang Yahudi. Kekuasaan Allah yang dinyatakan melalui kekuatan alam berupa Gempa bumi yang menyobek selaput atau tirai diskrimatif itu mau menunjukkan bahwa Tuhan mau mengajak manusia di sejagat untuk kembali mengutamakan kesetaraan semua manusia karena memiliki kemanusiaan yang sama dan sekaligus sebagai citra Allah. Inilah revolusi Yesus yang sangat menginspirasi setiap manusia dalam membangun dan memperbaharui kehidupan sosialnya.***

Hari Minggu Palma di Soverdi Surabaya 18 April 2011.

Tidak ada komentar: