Kebudayaan Suku Bunak
Masuk Lewat Pintu Budaya Suku Bunak Keluar Melalui Pintu Antropologi Kristiani
Selasa, Mei 17, 2011
SAHNYA SAKRAMEN REKONSILIASI
Sabtu, April 30, 2011
Kotbah Kamis Putih Thn A 2011
“AKU INI HAMBA TUHAN”
*P. Benediktus Bere Mali, SVD*
Beberapa tahun terakhir beberapa “hamba” di beberapa Negara menerima perlakuan yang tidak manusiawi. Pekerja Rumah Tangga yang bekerja tidak sesuai pikiran majikan, majikan seenaknya menyiksanya tanpa merasa ada beban kontrol dari saudara dan saudarinya yang jauh di Negeri seberang. Siksaan seorang majikan terhadap hamba yang melayaninya terungkap jelas beberapa waktu lalu melalui menyetrika wajah pembantu Rumah Tangga.
Meskipun demikian sadisnya majikan atas diri hambanya, hamba menyerahkan diri seutuhnya pada penyiksa karena seluruh hidupnya bergantung pada majikan. Hamba menjalankan tugas sebagai seorang hamba yang harus memenuhi segala harapan dan permintaan majikannya sekalipun permintaannya itu sangat tidak manusiawi lagi. Hamba mencintai hidup sebagai rahmat Tuhan yang perlu dijaga dan dilestarikan dengan melaksanakan segala keinginan dan kebutuhan majikannya.
Dunia dapat merekam penyiksaan keji pada hamba itu karena pers berhati nurani menyuarakan kaum tak bersuara kepada dunia. Berkat kenabian pers itu dunia pun mengenal dan mengetahui perbuatan sadis satu majikan dari sekian ratus majikan yang kebobrokannya tidak sempat terungkap ke panggung dunia.
Peristiwa ini membuat kita tersadar dan berujar bahwa kita tidak pernah menemukan seorang majikan menyetrika pakaian hambanya. Yang ada adalah majikan menyetrika wajah hambanya. Sebuah perbuatan tidak manusiawi sekaligus menodai kemanusiaan seorang hamba yang sekaligus juga adalah secitra Allah.
Pikiran Allah bukanlah pikiran manusia. Allah bukan tampil sebagai seorang raja atau majikan yang hanya siap selalu untuk dilayani. Allah kita adalah seorang hamba yang siap sedia melayani semua orang melintas batas. Allah kita melayani pemimpin dalam diri pemimpin, Petrus, ketua kelompok dua belas murid Yesus sampai Yudas pengkhianat diriNya. Allah melayani dari kelas atas sampai masyarakat pinggiran yang dilupakan.
PelayananNya menunjukan jati diri Allah adalah Hamba Allah yang melayani melintas batas. Bercerita tentang Allah adalah hamba mempunyai sejarahnya sendiri. Allah menjadi hamba bukan sesuatu yang jatuh atau turun dari langit seketika atau seperti kecepatan kilat yang disusul gemuruh yang menggetarkan alam sekitar. Kedatangan Allah Maha Tinggi menjadi Allah imanen terlaksana dalam rupa seorang hamba. St. Maria yang menerima khabar Gembira Tuhan dari Malaekat Gabriel mengafirmasinya dalam kata-kata seorang hamba tulen tanpa kepentingan pribadi apa pun selain kepentingan Allah yang menghendaki misiNya menyelamatkan seluruh dunia. Afirmasi seorang Maria sebagai hamba dalam fiatnya “ Aku ini hamba Tuhan terjadilah padaku menurut kehendak-Mu.” Fiat ini memiliki konsekuensinya yang sangat multidimensional dari kehidupan selanjutnya dari yang dikandung melalui fiatnya yang sarat seorang hamba.
Yesus adalah Allah yang datang kedunia menjadi manusia dan selanjutnya menjadi hamba dari segala hamba Allah. Identitas Tuhan Yesus sebagai hamba muncul ke permukaan panggung kehidupan spiritual pada hari Kamis Putih. Yesus menyerahkan diri kepada manusia dan Tuhan dalam perbuatannya melayani secara revolusioner yang mula-mula bermula di dalam rumahNya sendiri, di dalam komunitasNya sendiri.
Pada saat Yesus traktir para muridNya sebelum berpisah dengan mereka, dalam suasana makan bersama, Yesus meninggalkan tempat duduknya yang istimewa menuju dunia pembasuhan kaki para murid yang membuat para murid merasa aneh dan kaget bahkan tidak masuk akal bahwa seorang Guru Spiritual para murid yang berguru setiap hari kepadaNya, merendah serendah hamba yang membasuh kaki mereka. Para murid merasa aneh melihat perbuatan pembasuhan kaki para muridNya itu karena membasuh kaki biasanya sebelum masuk kedalam rumah setelah bepergian jauh. Pembasuhan kaki dalam adat istiadat bangsa Yahudi adalah sebuah pekerjaan seorang hamba majikan.
Yesus memberikan teladan pembasuhan kaki, bermakna bagi setiap manusia yaitu supaya manusia selalu saling melayani tanpa pamrih demi keselamatan manusia pada umumnya melintas batas.
Teladan itu berpuncak pada penyerahan diri untuk Allah dan kepada manusia untuk menyelamatkan dunia dan segala isinya. Puncak Pelayanan Yesus sebagai hamba terungkap dalam SabdaNya : “Inilah DarahKu yang ditumpahkan bagimu untuk keselamatanmu. Inilah TubuhKu yang diserahkan bagimu.” Ini adalah Sebuah hakekat Pelayanan sebagai seorang hamba dari segala hamba.
Perhambaan Tuhan menjadi nyata dalam kata-kataNya, dalam perbuatan pelayananNya dan berpuncak di dalam penyerahan diri, hidupNya kepada BapaNya di Surga dan kepada manusia untuk sebuah tujuan yaitu keselamatan semua manusia.
Yesus dilahirkan dari rahim fiat ibundaNya “ Aku ini hamba Tuhan terjailah padaku menurut kehendakMu.” Perhambaan ibundaNya me-reformasi diri dalam diri Yesus anaknya khususnya di dalam seluruh pelayananNya. Yesus adalah pemimpin yang merendah menjadi hamba membasuh kaki para muridNya. Yesus sebagai Tuhan yang menempatkan diri secara radikal sebagai hamba yang memberikan segala-galanya, tubuh dan darahNya, seluruh hidupnya kepada Tuhan yang ditaatiNya dan kepada manusia untuk menyelamatkan manusia.
Yesus adalah pemimpin bagi kita sebagai orang yang beriman kepadaNya dan menjadikan Yesus sebagai satu-satunya jalan kebenaran dan kehidupan. Keimanan kita ini menuntun kita untuk menjadi pemimpin yang melayani sesama demi kebaikan sesama. Ini adalah identitas kita sebagai orang Kristen yang percaya kepada Allh kita sebagai seorang hamba.
Identitas ini mulai kabur di dalam para pemimpin yang beriman percaya kepada Yesus sebagai hamba dari segala hamba. Mengkorup uang rakyat adalah satu perbuatan yang sangat bertentangan dengan identitas orang Kristiani yang mengimana Allah sebagai hamba segala hamba. Pemimpin beriman yang meninggalkan rakyat hidup dalam kemiskinan dan kemelaratan dan kesulitan mendapatkan informasi dan transportasi yang memadai adalah sebuah pembiaran di sengaja dari para pemimpin beriman di mata dunia. Kesaksian pemimpin dengan “pembiaran” rakyat miskin adalah sebuah penghancuran identitas diri sebagai orang beriman yang seharusnya mengutamakan kebaikan, kebenaran dan keselamatan sesame melintas batas.
Pada saar kita melihat segala perbuatan kelompok beriman yang mempertajam perusakan jati dirinya, membangkitkan sebuah kesadaran baru dalam diri bahwa kita dalam lingkup makro di space kecil keluarga, komunitas, lingkungan dan wilayah, tidak beoleh membiarkan orang lain menderita dalam arti yang seluas-luasnya. Kita harus menghidupi iman kepada Yesus yang menjadi hamba dari segala hamba melalui perbuatan nyata melayani sesama melintas batas untuk kebaikan dan kebenaran serta keselamatan manusia melintas batas. Pelayanan yang menekan atau mengutamakan “aku” dulu baru “ yang lain” dalam arti yang luas, justru awal yang baik untuk mengerdilkan unsur utama gereja misiner, terlebih hal seperti itu menodai identitas gereja yang hidup seturut pusat Gereja yaitu Yesus hamba dari segala hamba.****
Kamis Putih tahun A 2011
21 April 2011
Soverdi St. Arnoldus Janssen Surabaya
Inspirasi Yohanes 13: 1-15
Kamis, April 28, 2011
Kotbah Jumat Agung Thn A 2011
IDENTITAS DAN HARGA DIRI
*P. Benediktus Bere Mali, SVD*
Pengakuan Harga Diri
Beberapa waktu lalu sebuah bangsa memberi penghargaan kepada salah seorang putera terbaik Indonesia atas jasanya memperjuangkan kebenaran, keadilan dan perdamaian sampai titik darah penghabisan. Penghargaan yang diberikan itu adalah untuk mengabadikan namanya, harga dirinya dan identitasnya yang dibangun di atas kebenaran, keadilan dan perdamaian sosial yang diperjuangkannya sampai titik darah penghabisan atau sampai mati. Penghargaan itu terungkap dalam menggunakan namanya pada jalan utama Negara dan bangsa asing yang sangat peduli pada perjuangannya daripada bangsanya sendiri.
Harga Diri Sebuah Bangsa
Bangsa Yahudi adalah bangsa yang memiliki harga diri yang tinggi di antara bangsa-bangsa dunia. Harga diri bangsa Yahudi ditakar oleh iman mereka kepada YAHWE sebagai satu-satunya penguasa mereka, yang disistematisasi dalam hukum Yahudi-Hukum Taurat Musa.
Identitas Bangsa Yahudi menutup semua pintu bagi mereka untuk mengakui penguasa lain di luar YAHWE dan mengakui hukum lain di luar hukum Taurat Musa. Mengakui Hukum lain dan penguasa lain sama dengan menginjak-injak harga diri mereka. Mengakui penguasa lain dan menjadikan hukum lain sebagai patokan setiap kehidupan sosial mereka melecehkan harga diri sendiri. Itu artinya harga diri mereka tidak ada lagi. Lebih baik mati daripada tidak mempunyai harga diri.
Tidak Punya Harga Diri Lagi
Identitas bangsa Yahudi mengalami krisis di dalam perjalanan sosial karena ada banyak tekanan sosial. Puncak krisis harga diri Bangsa Yahudi adalah ketika mereka mengakui Kaisar sebagai satu-satunya Raja mereka. Mereka mengatakan itu secara lantang di depan publik. Kata-kata mereka ini menghancurkan harga diri mereka sendiri: “Setiap orang yang mengaku dirinya sebagai raja, dia melawan kaisar.” Kata-kata imam-imam kepala penjaga identitas Yahudi ini, juga menghancurkan harga diri mereka. Dengan katak-kata imam-imam kepala ini : “Satu-satunya raja kami ialah kaisar,” menempatkan bangsa Yahudi sudah tidak mempunyai harga diri lagi. Bangsa Yahudi mematikan harga diri mereka, hidup mereka sendiri, berpuncak pada YAHWE yang menjadi manusia dalam diri YESUS yang mereka bunuh di Salib. Inilah puncak kematian Allah kematian harga diri Bangsa Yahudi.
Membunuh YAHWE adalah pekerjaan orang kafir. Kematian YAHWE dalam diri YESUS merupakan puncak kematian harga diri bangsa Yahudi, kematian segala-galanya. Sebuah tindakan sadis bangsa Yahudi yang menodai harga dirinya sepanjang zaman manusia.
Mereka telah ke lain hati. Dari Kesetiaan mereka kepada YAHWE kepada Kesetiaan kepada Kaisar Raja Kafir. Dari Identitas mulia yang mereka miliki seperti yang disistematisasi di dalam Hukum Musa menuju tidak mempunyai harga diri lagi. Dari makhluk beriman menuju makhluk kafir. Puncak kekafiran Yahudia adalah membunuh YAHWE sebagai satu-satunya penguasa yang menyelamatkan mereka. Ini drama jalan Salib, drama kematian Tuhan oleh kaum kafir yang kita renungkan pada hari Jumat Agung ini.
Drama penghancuran identitas kaum beriman oleh kaum beriman sendiri selalu actual di dalam kehidupan sosial sepanjang zaman. Bangsa Indonesia adalah bangsa Religius. Kita menemukan bukti yang kuat bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa Religius dengan menjumpai tempat sembahyang di mana-mana. Kita menjumpai tempat ibadah hampir di setiap sudut kota dan kampung, RT, RW di tanah air. Kita menjumpai tempat sembahyang di setiap Pom Bensin di jalan-jalan.
Hakekat sembahyang adalah menyelamatkan diri dan sesama melintas batas, karena Tuhan pasti mendengarkan doa orang yang berintensi menyelamatkan diri dan sesamanya. Apakah dengan demikian kita tidak menjumpai roh-roh kekafiran dalam hidup berbangsa dan bernegara?
Tindakan kekafiran yang membunuh Allah yang berwajah manusia tetap ada. Kita menglami tindakan kekafiran dalam bom buku, bum bunuh diri beberapa waktu lalu menjelang Perayaan Paskah. Kita juga menemukan di dalam media cetak dan media elektronik, orang-orang yang membunuh anak yang dikandungnya yaitu mengadakan aborsi, pembunuhan melalui narkoba, teroris yang menghancurkan hidup manusia. Semua tindakan terencana sadar bebas, membunuh hidup manusia adalah perbuatan konkret kekafiran Yahudi dan Romawi berwajah zaman modern kini dan di sini di Indonesia sebagai bangsa yang dikenal sebagai bangsa yang memiliki rasa religiusitas yang sangat tinggi. Dengan tindakan pembunuhan hidup yang semakin menyebar di tanah air, berarti kita juga menghancurkan identitas diri kita sebagai bangsa yang memiliki kehidupan religious yang tinggi di mata bangsa-bangsa di dunia. Artinya kita juga boleh dikatakan bahwa harga diri kita sudah ternoda.
Lantas apa yang kita lakukan untuk me-re-formasi harga diri kita agar kembali memiliki harga diri yang utuh sebagai bangsa religious yang menyelamatkan hidup melintas batas? Kita mulai dari diri kita sendiri, dari keluarga kita, dari komunitas kita, dengan menolak semua model pembunuhan terhadap tindakan pembunuhan dan mencintai kehidupan dan keselamatan semua manusia. Kita menjauhkan semua perbuatan kekafiran dalam hidup kita dan senantiasa menghadirkan kehidupan religious yang mencintai kehidupan melintas batas di atas segalanya.***
Jumat Agung Tahun A 2011
Kisah Sengsara Injil Yohanes
Soverdi St. Arnoldus Janssen Surabaya
Kotbah Tutup Peti
“MENABUNG
DEMI MASA DEPAN”
*P. Benediktus Bere Mali, SVD*
Hidup Duniawi
Setiap orang tua di zaman modern ini pasti memikirkan tentang masa depannya yang lebih baik. Meraih masa depan yang lebih baik dari pada hidup kini yang sedang dialami dan dilalui ini memerlukan persiapan sejak dini yang sebaiknya memulainya saat ini dan disini.
Perbuatan nyata yaitu menabung uang hasil pekerjaan dan hasil usaha yang mendatangkan keuntungan adalah sebuah tindakan konkret untuk meraih masa depan yang lebih baik. Masa depan yang lebih baik itu meliputi multidimensi bidang-bidang kehidupan.
Multidemensi kehidupan masa depan yang lebih baik itu meliputi perumahan yang lebih baik bagi keluarga, pendidikan anak-anak yang berbobot dalam persaingan dunia yang sangat menekankan profesionalisme, kesehatan seluruh anggota keluarga yang lebih baik pada masa yang akan datang, kebutuhan primer dan sekuder terpenuhi dan ditambah dengan kebutuhan mewah yang menambah sukacita di masa mendatang, yang menjadi cita-cita setiap manusia.
Mengidealkan masa depan yang lebih baik dan bermutu menjadi motivator setiap manusia untuk mengerjakan apa saja yang baik dan benar pada masa kini dan disini di usia yang penuh energik ini untuk mendapatkan keuntungan dari hasil yang pekerjaan, dan ditabung untuk kelak meraih masa depan yang diharapkan.
Hidup Rohani
Kehidupan rohani adalah sebuah peziarahan menuju kepenuhan kehidupan spiritual pada masa depan yang diharapkan. Masa depan kehidupan spiritual adalah kerinduan dan harapan setiap kaum beriman untuk mendiami kediaman Rumah Bapa di Surga.
Meraih masa depan kehidupan spiritual selain merupakan rahmat dari atas, ada juga sisi manusiawi/insane yang diberi ruang untuk diisi. Manusia harus menempatkan diri secara aktif merebut harapan masa depan yang lebih baik.
Satu perbuatan nyata kaum beriman selama hidupnya di atas planet bumi ini adalah menabung perbuatan yang baik dan benar di hadapan sesama, terhadap diri sendiri dan terhadap Tuhan.
Menabung perbuatan baik dan benar dalam hidup orang beriman yang mengharapkan kehidupan spiritual masa depan yang lebih baik, menjadi tekanan utama di dalam Kitab Kebijaksanaan 4:7-15. Dikatakan bahw orang jujur yang menikmati ketentraman. Hidup orang yang tidak bercela menjadi ukuran untuk mengalami perdamaian dalam kehidupan rohani di masa depan. Mereka yang selama hidupnya mengedepankan perbuatan baik dan benar, Tuhan pasti mencintainya. Perlindungan Allah tersedia bagi mereka yang melakukan yang baik, benar dan jujur. Mereka itu pasti mengalami kehidupan kesempurnaan dalam Allah.
Para beriman menabung perbuatan-perbuatan baik, benar dan jujur selama masa ziarah hidupnya di atas planet bumi ini memiliki aturan mainnya yang harus ditaati.
Alat ukur atau kriteria atau batasan menabung perbuatan jujur, perbuatan yang baik dan benar selama hidupnya, yang dipegang jadi patokan adalah Yesus Kristus sebagai satu-satunya yang memberikan kepastian bagi kita untuk meraih masa depan yang lebih baik , yang senantiasa membawa kehagiaan yang tiada berakhir.
Mengapa Yesus sebagai Patokan? Yesus adalah jalan kebenaran dan kehidupan. Yesus melewati jalan salib kematianNya menuju kehidupan abadi di Surga, puncak kehidupan sempurna yang penuh dengan sukacita abadi. Yesus sendiri bersabda : “ Akulah jalan kebenaran dan kehidupan. Hanya melalui Aku orang yang percaya kepadaKu sampai ke Rumah BapaKu di Surga.” Kepastian Tuhan Yesus menunjukkan DiriNya sebagai jalan, kebenaran dan kehidupan abadi di Surga membangkitkan kepastian iman dan kepercayaan kita kepadaNya untuk menata diri dan seluruh hidup kita selama berziarah di atas bumi ini seturus kehendakNya yang menyelamatkan dan menuntun kita kepada kebahagiaan kekal di Surga.
Iman kepada Kristus yang telah bangkit dari kematianNya membangkitkan harapan kita akan masa depan bahwa kita yang percaya kepadaNya sebagai satu-satunya jalan keselamatan, pasti dalam iman akan mengalami kehidupan di dalam rumah Bapa di Surga yang penuh dengan sukacita abadi.
Iman Kita Menyelamatkan Sesama
Kita berdoa bagi sesama entah yang hidup dan sudah mati karena kita yakin bahwa doa kita orang beriman mempunyai daya penyelamatan bagi sesama.
Ada dasar biblis tentang betapa pentingnya kita berdoa bagi sesama yang menyelamatkan sesama. Iman Marta kepada Yesus sumber kebangkitan dan kehidupan membangkitkan Lazarus saudaranya yang telah mati. (Bdk.Yoh 11 : 25-27). Pendasaran biblis ini meneguhkan doa kita bagi sesama yang masih hidup maupun yang sudah mati untuk keselamatan mereka. Oleh karena itu kita tidak pelit atau tidak bosan-bosannya mendoakan sesama sebagai pemberian yang terbaik bagi keselamatan sesama yang kita doakan.
Doa adalah perbuatan baik dan benar bagi keselamatan sesama dalam nama Yesus Kristus sebagai satu-satunya jalan menuju keselamatan kekal di dalam Surga. Yesus secara pasti bersabda : “Akulah jalan kebenaran dan kehidupan, hanya melalui Aku setiap orang yang percaya masuk mendiami Rumah Bapa.” Mengapa kita ragu lagi untuk percaya kepada Tuhan Yesus? Iman Marta kepadaYesus sumber kebangkitan dan kehidupan, membangkitkan Lazarus saudaranya yang telah mati. Mengapa kita tidak memanfaatkan iman kita kepada Kristus yang telah bangkit untuk menyelamatkan sesama?
Sumber Inspirasi:
Keb 4:7-15
Yoh 14:1-7
Minggu Paskah 24 April 2o11
Soverdi St. Arnoldus Surabaya
Minggu, April 24, 2011
Kotbah Minggu Palma tahun A 2011
”TIRAI DISKRIMINASI TELAH TERSOBEK”
*P. Benediktus Bere Mali, SVD
Tirai Diskriminasi dalam Hidup Nyata
Dalam kehidupan kita seringkali kita menjumpai pembedaan-pembedaan entah itu secara langsung ataupun secara tidak langsung. Perbedaan bukan dipandang secara seratus persen sebagai sebuah kekayaan melainkan sebagai musuh atau lawan yang perlu dilawan dan dikalahkan. Konflik-konflik yang ada dan terjadi sering lahir dari pemanfaatan perbedaan untuk mengutamakan kepentingan diri entah dalam lingkup yang mikro maupun dalam lingkup yang makro. Keretakan sosial pun terjadi dalam kehidupan bersama. Keharmonisan dan kedamaian menjadi langka dan jauh dari manusia untuk mengalaminya.
Mengahadapi atau menjumpai atau mengalami aneka keretakan yang ada dan terjadi menjadi persoalan kehidupan bersama. Sebagai persoalan bersama perlu diadakan sebuah jalan penyelesaian bersama untuk kembali kita mengalami kedamain dan keharmonisan bersama. Perlu diadakan sebuah pemulihan terhadap keretakan yang ada untuk kembali memperindah wajah keharminisan kehidupan bersama.
Memulihkan pelbagai keretakan sosial yang ada termasuk keprihatinan dan perhatian SVD Sejagat. Hal ini menjadi salah satu bagian yang ditekankan Kapitel General SVD yang akan diselenggarakan pada bulan Juni 2012 di Roma. Kapitel General adalah sebuah lembaga tertinggi SVD dunia dalam memutuskan hal-hal penting yang berkaitan dengan jalan SVD ke depan dalam level dunia internasional.
Disadari bahwa ada pelbagai penyebab keretakan sosial yang ditemukan Serikat Sabda Allah (SVD) dunia. Modernisasi yang memproklamirkan keahlian dalam setiap bidang melahirkan lapangan pengkotak-kotakan yang sangat tajam bahkan melahirkan diskriminasi antara sesama manusia.
Pembagian kelas sosial berdasarkan agama dan budaya dapat menciptakan diskrimisan tajam dalam kehidupan bersama. Adanya naluri manusia menempatkan agamanya dan budayanya sebagai yang paling benar dan dianggap sebagai satu-satunya jalan agama yang membuka pintu surga baginya. Pola ini menjadi potensi bagi lahirnya fundamentalisme dan fanatisme yang rasis diskriminatif. Bila hal ini sampai munculke permukaan publik panggung kehidupan sosial maka wajah keharmonisan ternoda oleh karena konflik yang meretakkannya.
Pola seperti ini bila dipasarkan dalam dunia yang serba relatif ini, maka pandangan ini tidak akan dibeli konsumen yang telah lebih dahulu jatuh cinta pada relativisme sebagai Tuhannya. Bahkan yang ada dalam pikiran kelompok relativis bukan hanya untuk tidak membeli, tetapi dalam dunianya, mereka dengan pandangan relativismenya mematahkan dan membumihanguskan fanatisme agama dan budaya yang menodai kemanusiaan universal.
Perbedaan pandangan antara usia muda dengan mereka yang berusia tua juga, seringkali menciptakan keretakan wajah kehidupan bersama entah dalam kehidupan komunitas kaum spiritual maupun kelompok sipil. Tak jarang kita menjumpai kaum usia senja atau senior menilai kelompok muda sebagai orang yang masih sangat hijauh tidak mempunyai banyak pengalaman dan kurang kebijaksanaan di dalam kehidupan bersama. Seluhur perjuangan mulia anak muda apapun seringkali mengalami kritik pedas kaum senior yang mematikan semangat anak muda yang masih penuh dengan sejuta cita-cita yang harus direalisasikan di dalam masa hidupnya. Kematian dukungan senior terhadap perealisasian cita luhur anak muda mengarahkan anak muda mengalami patah asa di tengah jalan.
Seringkali kelompok anak muda pun melihat orang yang berusia tua terlalu ekstrim. Generasi tua adalah generasi lamban dan kolot tidak mengikuti perkembangan zaman yang memaksa untuk bergerak cepat di segala bidang kehidupan untuk kemajuan bersama. Tanpa jembatan yang dibangun untuk menyatupadukan harapan dan cita-cita generasi tua dengan generasi muda untuk membangun sebuah komunitas sosial yang rukun dan damai, maka cela keretakan sosial akan menjadi lebih mengangah lebar dan sulit untuk disatukan kembali.
Tirai Pembedaan Bangsa Yahudi
Meretakan wajah kehidupan bersama juga bukan sesuatu perbuatan yang asing di dalam kehidupan sosial bangsa Yahudi. Ideologi diskriminasi telah dibangun di dalam Kenizah pusat identitasnya. Ada tirai yang memisahkan sesama manusia. Tirai itu memisahkan tempat yang lebih baik dengan yang tidak baik. Pola tirai ini mempertajam pembedaan mereka yang menempati kedua tempat yang berbeda itu. Mereka yang kebetulan menempati ruangan yang tidak baik dinilai sebagai yang tidak baik dan mereka yang kebetulan menempati tempat yang baik adalah orang yang baik.
Yesus adalah seorang yang beragama Yahudi. Keagamaannya membangun kesadaran dalam diriNya dalam memandang Tirai di kenizah sebagai sesuatu yang tercipta manusia bukan turun dari atas sebagai barang mati. Tirai yang memisahkan tempat yang baik dan yang tidak baik dalam kenizah perlu diperbaharui agar pembedaan-pembedaan yang mempertebal penodaan pada wajah kemanusiaan semakin dikurangi bahkan dihapus sama sekali. Penghapusan kebiasaan diskriminasi di dalam Kenizah pusat hidup dan identitas agama Yahudi bukan seperti semuda membalikkan telapak tangan. Yesus harus menghadapi benteng penjaga Bait Allah yang melihat tirai itu baik adanya dan bukan menjadi persoalan mereka. Yesus harus berani menanggung segala resiko berupa penolakan bahkan bisa sampai nyawanya terancam. Dan memang benar bahwa hanya lewat kematianNya di Salib, Yesus dengan kuasa Allah sendiri menyobek tirai kenizah yang tercipta para penjaga Bait Allah Yerusalem dalam menjaga stutus yang menguntungkan diri bahkan menjadi lahan utama mendapat pekerjaan dan penghasilan.
Kematian Yesus disusul oleh kekuatan alam berupa gempah bumi yang menghancurkan segala kekuatan duniawi dan buatan manusia, tak terkecuali tersobeknya tirai kenizah pusat diskriminasi manusia. Ketika kita menonton Gempa Bumi di Golgota setelah Yesus disalibkan, dalam filmThe Passion of Christ, kekuatan alam itu meluluhlantakan kekuatan duniawi termasuk istana Pengadilan Pilatus tempat pengadilan terakhir Yesus, kursi istana Pilatus dan Herodes. Hal ini menujukkan bahwa yang lama telah diganti yang baru. Yang diskriminasi dihapus dengan kesetaran sesama manusia sebagai citra Allah.
Maka terpenuhilah Sabda Allah ini: ”Tirai kenisah yang sangat diskriminatif di hadapan Tuhan dan sesama manusia itu tersobek menjadi dua dari atas sampai ke bawah.” (lihat Mat 26 : 14 – 27: 66). Rantai Philosofi agama Yahudi yang membeda-bedakan dalam multidimensi terputus oleh kebangkitan Tuhan Yesus yang sebelumnya disalibkan dan dibunuh orang Yahudi. Kekuasaan Allah yang dinyatakan melalui kekuatan alam berupa Gempa bumi yang menyobek selaput atau tirai diskrimatif itu mau menunjukkan bahwa Tuhan mau mengajak manusia di sejagat untuk kembali mengutamakan kesetaraan semua manusia karena memiliki kemanusiaan yang sama dan sekaligus sebagai citra Allah. Inilah revolusi Yesus yang sangat menginspirasi setiap manusia dalam membangun dan memperbaharui kehidupan sosialnya.***
Hari Minggu Palma di Soverdi Surabaya 18 April 2011.